Perkembangan
Terhadap Remaja
Latar Belakang
Masa
remaja adalah masa di mana seseorang mengalami perubahan dalam hidupnya, yaitu
baik dari segi fisik ataupun segi psikis. Pada masa ini seseorang akan
mengalami tingkat kedewasaanya dalam menghadapi hidup ini. Setelah seseorang
menguasai sepenuhnya fungsi fisik dan psikisnya, maka seorang anak dapat
dianggap sudah dewasa.
Seseorang dapat dikatakan sudah remaja ketika seseorang itu sudah
mengalami perubahan pada hidupnya secara fisik maupun psikis. Pada masa remaja
seseorang juga akan mulai mengetahui pentingnya kebutuhan seksual dalam hidup
mereka.
Definisi
Perkembangan
Perkembangan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia.
Perkembangan adalah perihal berkembang. Dan kata
berkembang memiliki arti mekar, terbuka menjadi besar, luas dan banyak serta
menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan dan
sebagainya. Dengan demikian perkembangan berarti tidak hanya meliputi aspek
yang abstrak saja akan tetapi juga mencakup hal-hal yang konkrit (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI],
2013).
Perkembangan menurut J. P. Chaplin. J.
P. Chaplin (dikutip dalam Baraja, 2005) bahwa
“perkembangan mempelajari proses perubahan dan kematangan perilaku pada
individu sebelum kelahiran maupun setelah kelahiran” (h. 3). Perkembangan
menurut Monks. Monks (dikutip dalam Baraja, 2005) bahwa “perkembangan
merupakan suatu proses yang dinamik. Proses tersebut bersifat individu dan
lingkungan yang akan menentukan tingkahlaku yang mana dan apa yang akan diaktualisasi
dan dimanifestasi” (h. 3).
Maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan
adalah perubahan-perubahan yang bersifat
kualitatif yang berkaitan dengan fungsi-fungsi psikis (kejiwaan) dan fisik
(organ tubuh).
Aspek-aspek Perkembangan
Egosentrisme. Egosentrisme adalah
pemusatan pada diri sendiri, memandang segalanya pada diri sendiri, merasakan
sesuatu untuk dirinya sendiri. Rasa egosentris yang timbul pada individu ini
dikarenakan adanya rasa keingintahuan terhadap sesuatu pada proses
perkembangannya (Baraja, 2005). Akan
tetapi, ada empat macam perkembangan bentuk egosentrisme, yaitu: (a) egosentris
sensor-motorik, merupakan perkembangan yang diawali dengan dengan kemampuan
yang belum dapat membedakan antara dirinya dengan dunia luar; (b) egosentris
pra-operasional, merupakan perkembangan yang hanya terarah pada pengenalan
obyek itu, belum masuk pada tahap pengertian; (c) egosentris operasional
konkrit, pada masa ini mulai menunjukkan superioritas kemampuan atau
kognitifnya; dan (d) egosentris operasional formal, pada perkembangan ini sudah
menggunakan kemampuan berfikirnya untuk menganalisa jalan pikirannya sendiri
dan oranglain (Piaget & Inhelder, dikutip dalam Baraja, 2005).
Pembangkangan. Pembangkangan
merupakan suatu hal yang mutlak dalam proses perkembangan individu yang menjadi
keharusan untuk dikerjakan (Baraja, 2005). Menurut Hetzer (dikutip dalam
Baraja, 2005) mengatakan bahwa “pembangkangan dianggap sebagai suatu proses
inti perkembangan kemauan dan kepribadian” (h. 159).
Emosi.
Perkembangan emosi ini disebabkan adanya suatu situasi perkembangan usia dan
kematangan individu. Perkembangan emosi ini akan bermunculan sesuai dengan
suasana hati atau perkembangan afektif individu (Baraja, 2005). Setiap keadaan
emosional, selalu merupakan kombinasi dari kutub-kutub emosi tersebut.
Seseorang yang melihat harimau, misalnya, keadaan emosi adalah unlust, spannung dan erregung. Sementara itu, seseorang
mahasiswa yang lulus ujian, emosinya adalah lust,
losung dan beruhigung (Sarlito,
1989).
Awal Mula Konsep Tentang Remaja
Perkembangan fisik
remaja. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, bukan hanya
dalam artian psikologis, tetapi juga fisik. Diantara perubahan fisik itu, yang
terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh.
Mulai berfungsinya alat-alat reproduksi dan tanda-tanda seksual sekunder yang
tumbuh (Sarlito, 1989). Dikatakan juga bahwa hormone genadotropic mulai positif dalam air seni. Hormon inilah
yang bertanggung jawab sebagian pada pertumbuhan tanda-tanda seksual (Muss,
dikutip dalam Sarlito, 1989).
Perkembangan
peran sosial. Definisi kognisi sosial sebagai sebuah tingkat analisis yang
ditunjukkan untuk memahami fenomena sosio psikologis dengan cara menyelidiki
proses-proses kognitif yang mendasari fenomena tersebut (Solso, Maclin, &
Maclin, 2008). Ditandai oleh awal kemampuan bergaul akrab dengan orang lain
bercirikan persamaan yang nyata dan saling memperhatikan. Mereka membutuhkan
teman akrab dari jenis kelamin yang sama, teman yang dapat menjadi tempat
mencurahkan isi hati, dan mencoba memecahkan masalah hidup (Alwisol, 2008).
Perkembangan
inteligensi. Terutama di kota-kota di Indonesia masa remaja merupakan masa
belajar di sekolah. Hal ini terutama berlaku bagi permulaan masa tersebut.
Remaja pada umumnya duduk di bangku sekolah menengah pertama atau yang
setingkat (Monks, Knoers, & Haditono, 2002). David Wechsler (dikutip dalam
Sarlito, 1989) mangatakan bahwa “keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir
dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara
efektif” (h. 77).
Pembentukan
konsep diri. Bahwa konstrual diri mengarah pada bagaimana individu
mengembangkan dan mendefinisikan informasi mengenai hubungan antara individu
dengan dirinya sendiri, hubungan antara individu dengan orang lain, serta
hubungan antara diri dengan orang lain (Mara, De Cicco, & Stroink, 2010).
Khususnya pada diri remaja, proses perubahan konsep diri harus terjadi. Hal itu
terjadi karena dalam proses kematangan kepribadian-kepribadiannya. Inti dari
tugas perkembangan seseorang dalam periode remaja awal dan menengah adalah
memperjuangkan kebebasan. Sementara itu, menemukan bentuk kepribadian yang khas
dalam periode itu belum menjadi sasaran utama (Sarlito, 1989).
Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri seseorang dalam rentang
masa kanak-kanak sampai masa dewasa. Pada masa ini pola pikir dan tingkah laku
remaja sangat berbeda pada saat masih kanak-kanak. Hubungan dengan kelompok
(teman sebaya) lebih erat dibandingkan hubungan dengan orangtua. Karakteristik
perkembangan remaja bisa dilihat dari perubahan fisik pada masa pubertas dan berfikir
logis. Sementara itu, ciri khas remaja adalah hubungan dengan teman sebaya
lebih erat, hubungan dengan orangtua penuh konflik, dan mudah stres.
Daftar
Pustaka
Alwisol. (2008). Psikologi kepribadian. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Baraja, A. (2005). Psikologi perkembangan: Tahapan-tahapan & aspek-aspeknya.
Jakarta: Studia Press.
Pusat Bahasa. (2013). Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Edisi ke-4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mara,
C. A., De Cicco, T. L., & Stroink, M. L. (2010). An investigation of the
relationships among self-contrual, emotional intelligence, and well-being.
International Journal of Transpersonal
Studies, 29(1), 1-11.
Monks,
F. J., Knoers, A. M. P., & Haditono, S. R. (2002). Psikologi perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya.
Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Sarwono, S. W. (1989). Psikologi
remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Solso,
R. L., Maclin, O. H., & Maclin, M. K. (2008). Psikologi kognitif (8th ed.). Jakarta: Erlangga.