Selasa, 11 November 2014

Perkembangan Terhadap Remaja


Perkembangan Terhadap Remaja
Latar Belakang
     Masa remaja adalah masa di mana seseorang mengalami perubahan dalam hidupnya, yaitu baik dari segi fisik ataupun segi psikis. Pada masa ini seseorang akan mengalami tingkat kedewasaanya dalam menghadapi hidup ini. Setelah seseorang menguasai sepenuhnya fungsi fisik dan psikisnya, maka seorang anak dapat dianggap sudah dewasa.
     Seseorang dapat dikatakan sudah remaja ketika seseorang itu sudah mengalami perubahan pada hidupnya secara fisik maupun psikis. Pada masa remaja seseorang juga akan mulai mengetahui pentingnya kebutuhan seksual dalam hidup mereka.
Definisi Perkembangan
     Perkembangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Perkembangan adalah perihal berkembang. Dan kata berkembang memiliki arti mekar, terbuka menjadi besar, luas dan banyak serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan dan sebagainya. Dengan demikian perkembangan berarti tidak hanya meliputi aspek yang abstrak saja akan tetapi juga mencakup hal-hal yang konkrit (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2013).
 
     Perkembangan menurut J. P. Chaplin. J. P. Chaplin (dikutip dalam Baraja, 2005) bahwa “perkembangan mempelajari proses perubahan dan kematangan perilaku pada individu sebelum kelahiran maupun setelah kelahiran” (h. 3).      Perkembangan menurut Monks. Monks (dikutip dalam Baraja, 2005) bahwa “perkembangan merupakan suatu proses yang dinamik. Proses tersebut bersifat individu dan lingkungan yang akan menentukan tingkahlaku yang mana dan apa yang akan diaktualisasi dan dimanifestasi” (h. 3).
     Maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan adalah  perubahan-perubahan yang bersifat kualitatif yang berkaitan dengan fungsi-fungsi psikis (kejiwaan) dan fisik (organ tubuh).
Aspek-aspek Perkembangan
     Egosentrisme. Egosentrisme adalah pemusatan pada diri sendiri, memandang segalanya pada diri sendiri, merasakan sesuatu untuk dirinya sendiri. Rasa egosentris yang timbul pada individu ini dikarenakan adanya rasa keingintahuan terhadap sesuatu pada proses perkembangannya (Baraja, 2005).  Akan tetapi, ada empat macam perkembangan bentuk egosentrisme, yaitu: (a) egosentris sensor-motorik, merupakan perkembangan yang diawali dengan dengan kemampuan yang belum dapat membedakan antara dirinya dengan dunia luar; (b) egosentris pra-operasional, merupakan perkembangan yang hanya terarah pada pengenalan obyek itu, belum masuk pada tahap pengertian; (c) egosentris operasional konkrit, pada masa ini mulai menunjukkan superioritas kemampuan atau kognitifnya; dan (d) egosentris operasional formal, pada perkembangan ini sudah menggunakan kemampuan berfikirnya untuk menganalisa jalan pikirannya sendiri dan oranglain (Piaget & Inhelder, dikutip dalam Baraja, 2005).
     Pembangkangan. Pembangkangan merupakan suatu hal yang mutlak dalam proses perkembangan individu yang menjadi keharusan untuk dikerjakan (Baraja, 2005). Menurut Hetzer (dikutip dalam Baraja, 2005) mengatakan bahwa “pembangkangan dianggap sebagai suatu proses inti perkembangan kemauan dan kepribadian” (h. 159).
     Emosi. Perkembangan emosi ini disebabkan adanya suatu situasi perkembangan usia dan kematangan individu. Perkembangan emosi ini akan bermunculan sesuai dengan suasana hati atau perkembangan afektif individu (Baraja, 2005). Setiap keadaan emosional, selalu merupakan kombinasi dari kutub-kutub emosi tersebut. Seseorang yang melihat harimau, misalnya, keadaan emosi adalah unlust, spannung dan erregung. Sementara itu, seseorang mahasiswa yang lulus ujian, emosinya adalah lust, losung dan beruhigung (Sarlito, 1989).
Awal Mula Konsep Tentang Remaja
     Perkembangan fisik remaja. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, bukan hanya dalam artian psikologis, tetapi juga fisik. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh. Mulai berfungsinya alat-alat reproduksi dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarlito, 1989). Dikatakan juga bahwa hormone genadotropic mulai positif dalam air seni. Hormon inilah yang bertanggung jawab sebagian pada pertumbuhan tanda-tanda seksual (Muss, dikutip dalam Sarlito, 1989).
     Perkembangan peran sosial. Definisi kognisi sosial sebagai sebuah tingkat analisis yang ditunjukkan untuk memahami fenomena sosio psikologis dengan cara menyelidiki proses-proses kognitif yang mendasari fenomena tersebut (Solso, Maclin, & Maclin, 2008). Ditandai oleh awal kemampuan bergaul akrab dengan orang lain bercirikan persamaan yang nyata dan saling memperhatikan. Mereka membutuhkan teman akrab dari jenis kelamin yang sama, teman yang dapat menjadi tempat mencurahkan isi hati, dan mencoba memecahkan masalah hidup (Alwisol, 2008).
     Perkembangan inteligensi. Terutama di kota-kota di Indonesia masa remaja merupakan masa belajar di sekolah. Hal ini terutama berlaku bagi permulaan masa tersebut. Remaja pada umumnya duduk di bangku sekolah menengah pertama atau yang setingkat (Monks, Knoers, & Haditono, 2002). David Wechsler (dikutip dalam Sarlito, 1989) mangatakan bahwa “keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif” (h. 77).
     Pembentukan konsep diri. Bahwa konstrual diri mengarah pada bagaimana individu mengembangkan dan mendefinisikan informasi mengenai hubungan antara individu dengan dirinya sendiri, hubungan antara individu dengan orang lain, serta hubungan antara diri dengan orang lain (Mara, De Cicco, & Stroink, 2010). Khususnya pada diri remaja, proses perubahan konsep diri harus terjadi. Hal itu terjadi karena dalam proses kematangan kepribadian-kepribadiannya. Inti dari tugas perkembangan seseorang dalam periode remaja awal dan menengah adalah memperjuangkan kebebasan. Sementara itu, menemukan bentuk kepribadian yang khas dalam periode itu belum menjadi sasaran utama (Sarlito, 1989).          

Kesimpulan
     Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri seseorang dalam rentang masa kanak-kanak sampai masa dewasa. Pada masa ini pola pikir dan tingkah laku remaja sangat berbeda pada saat masih kanak-kanak. Hubungan dengan kelompok (teman sebaya) lebih erat dibandingkan hubungan dengan orangtua. Karakteristik perkembangan remaja bisa dilihat dari perubahan fisik pada masa pubertas dan berfikir logis. Sementara itu, ciri khas remaja adalah hubungan dengan teman sebaya lebih erat, hubungan dengan orangtua penuh konflik, dan mudah stres.











Daftar Pustaka
Alwisol. (2008). Psikologi kepribadian. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Baraja, A. (2005). Psikologi perkembangan: Tahapan-tahapan & aspek-aspeknya. Jakarta: Studia Press.
Pusat Bahasa. (2013). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mara, C. A., De Cicco, T. L., & Stroink, M. L. (2010). An investigation of the relationships among self-contrual, emotional intelligence, and well-being. International Journal of Transpersonal Studies, 29(1), 1-11.
Monks, F. J., Knoers, A. M. P., & Haditono, S. R. (2002). Psikologi perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Sarwono, S. W. (1989). Psikologi remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Solso, R. L., Maclin, O. H., & Maclin, M. K. (2008). Psikologi kognitif (8th ed.). Jakarta: Erlangga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar